Sendal

|

A : Apakah kamu setuju kalau kita tidak perlu menginjak kaki teman kita untuk memberitahukan bahwa ia menggunakan sendal terbalik ?

B : Iyah saya setuju, tapi kalau dia tidak sadar juga, tidak ada salahnya kalau saya menginjak kakinya supaya ia tahu bahwa ia mengenakan sendal terbalik.

A : Kalau seperti itu, sama saja kamu mencelakakan teman kamu.

B : Iyah, tapi dengan seperti itu, dia terhindar dari kecelakaan yang lain. Misalnya karena dia mengenakan sendal terbalik, ia tidak dapat melangkah dengan nyaman, lalu setelah itu bisa saja ia terjatuh.

A : Biarlah ia celaka karena perbuatannya sendiri. Jangan buat ia celaka oleh perbuatanmu.

B : Yasudah, saya hanya berniat baik. Kalau ia ingin celaka karena perbuatannya, biarlah. Tapi masalahnya, sendal yang ia pakai itu punyaku, jadi aku ingin dia melepaskan sendalku, aku juga ingin menyelamatkan sendalku supaya tidak rusak. Selanjutnya, silahkan ia kenakan sendal miliknya sendiri. Terbalik atau tidak, yah aku sudah tidak perduli lagi. Karena tidak merugikan diriku. :D

Antara Batasan dan Cara Pandangan (Terinspirasi Dari Seorang Yang Barusan Mengatakan Saya Goblok)

|


Beberapa orang mengatakan aku adalah orang bodoh, orang aneh, orang gila. Yah memang seperti itulah kenyataan dalam segi parameter yang ada didalam kepalanya. Aku yang tergolong sebagai orang bodoh yang sempit jika dibanding oleh keluasan langit yang belum pernah ku temukan ujungnya karena aku ini terbatas, tetapi dalam keterbatasan ini aku selalu menemukan batasan yang lebih kecil dibanding batasan yang kupunya, yang selalu mengatakan "Hei, batasan mu sungguh teramat sempit kawan", yah batasan yang ku miliki ini memang sempit, dan nada dari tiap kalimat itu selalu saja sinis mengatakan sempitnya keterbatasan yang membatasiku. Apakah mereka tidak sadar bahwa batasan yang membatasi mereka tidaklah lebih lebih besar, luas, atau apalah jika dibanding dengan keterbatasan yang membatasiku saat ini ?

Beberapa menit yang lalu, datanglah seorang dengan keterbatasan yang mengatakan bahwa batasan ku ini sangatlah kecil, aku terdiam sejenak, aku menatap ke arahnya, lalu aku mendekatinya, yah, hanya beberapa kaki jarak ku saat ini dengannya, aku melihat keterbatasan dirinya yang tidaklah lebih tinggi dariku, dan tidaklah lebih luas dari keterbatasan yang aku miliki. Sungguh menyedihkan melihatnya berada dalam keterbatasan yang tidak lebih luas dari keterbatasan yang kumiliki saat ini, tapi dengan sombongnya ia menghujat, menghina, mencaci dan memaki diriku. Setelah melihatnya seperti itu, akupun menangis, yah beberapa tetes air mata itu jatuh dan dia tidak menyadari bahwa tangisan ini bukan karena dia memperolok batasan ku, tangisan ini ada karena melihat apa yang terjadi dengannya sekarang ini, ingin ku gapai tangannya lalu ku ajak masuk dalam batasan ku ini, dan membuat batasan yang lebih luas lagi dengan keberadaan dirinya disisiku ini, tapi dia menjauh dari keberadaan ku saat ini, dan dia memandang keterbatasan yang kumiliki ini menjadi semakin kecil, seperti saat aku mengatakan bulan itu terlalu kecil jika dibanding dengan telapak tanganku, kalau aku bisa kesana, pasti aku bisa meraihnya dengan mudah. Mungkin dia yang sekarang ini seperti aku yang sedang menatap bulan tersebut.

Makna Sebuah Pewarnaan (Terinspirasi Saat Main di CK)

|


Aku berdiri, terdiam, meratapi segala hal yang terjadi disekitarku. Tidak ada yang istimewa yang terjadi disini, mungkin jika dia yang telah pergi jauh dariku melihat semua ini, dia akan melakukan hal yang sama seperti yang kupikirkan, yaitu berlari sejauh mungkin. Dari ketidak istimewaan ini, aku sangat menginginkan dan menuntut supaya keistimewaan itu datang dan terjadi disini dengan tiada akhir. Lelah melihat beberapa orang dari kelompok satu ke kelompok yang lain saling tuding menuding siapa yang baik tanpa memperdulikan perasaan orang lain yang terpotong, tertembak atau bahkan meledak oleh senjatanya yang sudah ia miliki sejak kecil.

Beberapa orang dilingkunganku sering mencaci, menghujat, menyerang dari kelompok satu ke kelompok lain, yah inilah tempat yang sangat kubenci, yaitu 'Lingkarang Brengsek", dimana terdapat beberapa lingkaran di dalam lingkaran ini, lingkaran yang ku harapkan musnah bersamaan dengan kebencian mereka kepada kelompok lingkaran yang lain. Tidak ada kedamaian disini, tidak ada sedikitpun, entah itu dari sesama kelompok atau antar kelompok lingkaran. Mereka selalu disibukan dengan kebencian mereka, menanamkan kebencian kepada kelompok mereka terhadap kelompok lingkaran yang lain. Tak ada yang ingin ku pilih disini, semuanya mengajarkan suatu kesamaan, yaitu kebencian, entah itu lingkaran hijau, kuning, dan merah, semua sama, sama-sama mengajarkan kebencian, disibukan dengan kebencian, sehingga mereka tidak mengerti arti kedamaian, atau mungkin mereka sama sekali tidak tahu apa itu damai, layaknya "Orang kota yang membawa tekhnologi tinggi ke daerah pedalaman yang tergolong primitif".